Selasa, 21 Oktober 2014

Tugas Kelompok Tiga



Bagaimana implentasai (penerapan) pembelajaran fonologi bagi mahasiswa, jelaskan dengan di sertai contoh !
(MINIMAL 500 kata )
Jawab
Sebagaimana kita ketahui fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa .Implementasi pembelajaran fonologi bagi mahasiswa sangatlah penting, karena banyak digunakan untuk keperluan komunikasi sehari-hari  , sebagai seorang mahasiswa pemahaman struktur fonologi bahasa perlu diperluas,karena selain mendapat bekal dari pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari –hari  juga dapat bermanfaat dalam pembinaan bahasa kita .
Pemanfaatan pembelajaran fonologi sangat berpengaruh terhadap cara berbicara seseorang ,apabila seseorang mengaplikasikan pembelajaran fonologi yang telah diketahui  dengan baik sehingga orang lain yang menjadi pendengar dapat mengerti dan memahami apa yang keluar dari bunyi ujar orang tersebut.
Sebagaimana seorang mahasiswa yang jurusan nya keguruan mempelajari fonologi  berperan penting apabila menyampaikan materi  vocal dan konsonan nya harus jelas
Seorang mahasiswa wajib mempelari fonologi karena fonologi merupakan salah satu fondasi utama dalam mempelajari linguistic atau tata bahasa, juga untuk meningkatkan pemahaman bunyi bahasa supaya nanti kita bisa mnerapkan klasifikasi bunyi bahasa secara praktis dan benar dalam proses belajar mengajar dilapangan.
Fonologi dipandang sebagai fondasi dalam mempelajari bahasa Indonesia karena fondasi merupakan kunci utama dalam mempelajari fonoloi, khususnya bagi para pengguna bahasa sangat perlu mempelajari fonologi dengan mempunyai fondasi ilmu bunyi nantinya guru dan calon guru diharapkan mampu menjadi guru professional dengan basis kokoh dalam ilmu pengetahuan bunyi yang dimiliki nya .
dalam pembelajaran fonologi sebaiknya mahasiswa mengerti terlebih dahulu apa itu fonologi , karena apabila mahasiswa tidak mengerti fonologi maka mereka akan susah menerapkannya
Dalam penerapan fonologi pembelajarannya dapat dilakukan dengan cara memasukan materi fonologi kedalam pembelajaran bahasa Indonesia, pendapat-pendapat tersebut menimbulkan adanya pendekatan yang berbeda yakni:
1.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha membiasakan dan menggunkan bahasa untk berkomunikasi.
2.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berarti berusaha untuk memeperoleh kemampuan berkomunikasi.
3.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa dalam pembelajaran bahasa, yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran, tekanan pembelajaran pada aspek-aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.
Manfaat fonologi dalam penyusunan ejaan bahasa bagi mahaiswa , ejaan adalah peraturan , penggambaran, atau pelambang bunyi ujar suatu bahasa . karena bunyi ujar ada dua unsur, segmental dan suprasegmental , maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi ujar tersebut. Perlambangan unsur segmental ini tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf,tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata,frasa,dan kalimat bagaimana memenggal suku kata , bagaimana menuliskan singkatan,nama orang,lambing-lambang teknis keilmuan dan sebagainya.Tata cara penulisan bunyi ujar(baik segmental  maupun suprasegmental ) ini bisa memanfaatkan hasil kajian fonologi terutama hasil kajian fonemik  terhadap bahasa yang bersangkutan  contoh ejaan bahasa Indonesia yang slama ini telah diterapkan dalam penulisan memanfaatkan hasil studi fonologi bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pelambang fonem. Oleh karena itu , ejaan bahasa Indonesia dikenal dengan istilah ejaan donemis .

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sintaksis dari kelompok tiga



KELOMPOK 3 LINGUISTIK UMUM
TENTANG SINTAKSIS






Disusun oleh :

Citra Wati A1B114010
Fahriah A1B114018
M.Nasar Helmi A1B114035
Sarifah Novia Astria A1B114051
Vila Eldiana Dwi Safitri A1B114060
Mahmuda A1B114074
M.Ikhsan Ramadani A1B114081
Noranisa A1B114088
Rieska Ananda A1B114095
Bahjatul Atqiya A1B112020




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN
2014/2015




SINTAKSIS

1.      Pengertian Sintaksis
          Kata sintaksis berasaldari kata Yunani (sun = ‘dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan.
Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.
Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat.
Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.
Ramlan (1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase .”
Secara umum sintaksis adalah telaah tentang struktur kalimat.

2.      Kata sebagai Satuan Sintaksis
          Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata, hanya dibicarakan sebgai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword). Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang yang berkategori preposisi dan konjungsi.
Frasa
A.Pengertian Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.
  1. bayi sehat
  2. pisang goreng
  3. baru datang
  4. sedang membaca
Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat.
B.      Jenis Frase
1)        Frase Eksostentrik
Frase eksosentrik adalah frase yang komponen komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan­nya. Misalnya, frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar.’’ Dia berdagang di pasar ‘’. Frase eksosentirk biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif seperti : di, dari, demi, dengan, oleh,dsb. dan frase eksosentrik yang nondirektif. Seperti: si,sang, yang, para, kaum,dsb.
2)        Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya,komponen pertama sedang membaca sedang komponen keduanya yaitu membaca dapat menggan­tikan kedudukan frase  tersebut.contoh:-Nenek sedang membaca komik di kamar.
                           -Nenek membaca komik di kamar
3)        Frase Koordinatif
Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh kunjungsi koordinatif.seperti ; dan, atau, tetapi,baik, makin
Contoh; sahat dan kuat,buruh atau majikan,makin terang makin baik.
4)        Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua k komponenanya saling merujuk sesamanya, dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan
Contoh: -Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.
              -Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali
C. Perluasan Frase
Salah satu ciri frase adalah frase itu dapat di perluas, maksudnya,frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai pengertian yang akan ditampilkan. Misalnya:frase seorang  mahasiswa .di perluas menjadi bukan seorang mahasiswa kedokteran.
  Klausa
A.Pengertian Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada kom­ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar.”
Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat
B.Jenis Klausa
         Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat, dan karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.
Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa preposisional. Dengan adanya berbagai tipe verba, maka dikenal adanya klausa transitif, klausa intransitif, klausa refleksif dan klausa resprokal.
        Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frase. Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial. Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkategori.
         Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numerila. Klausa berupasat adalah klausa yang subjeknya terikat didalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang juga berlaku sebagai subjek.

Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, baik unsur fungsi itu eksplisit maupun implisit; (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
Fungsi sintaksis dalam kalimat
Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.
Jenis kalimat
1.      kalimat inti dan kalimat non inti                                                                                                                            
a.       FN+FV                 : Nenek datang
b.      FN+FV+FN          : Nenek membaca komik
c.       FN+FV+FN+FN  : Nenek membacakan kakek komik
d.      FN+FN                 : Nenek dokter
e.       FN+FA                 : Nenek cantik
f.       FN+Fnum             : Uangnya dua juta
g.      FN+FP                  : Uangnya di dompet

2.      Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
3.      Kalimat mayor dan kalimat minor
4.      Kalimat verbal dan kalimat non-verbal
5.      Kalimat bebas dan kalimat terikat
Intonasi Kalimat
Tekanan;ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran
Tempo;waktu yang di butuhkan untuk melapalkan suatu arus ujaran.
Nada;unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.
Modus, Aspek,Kala,Modalitas,Fokus,dan Diatesis
Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembaca dalam bahasa tertentu.
·         Modus indikatif atau deklaratif; menunjukkan sikap objektif atau netral.
·         Modus optatif; menunjukkan harapan atau keinginan.
·         Modus imperatif;menyatakan perintah,larangan atau tegahan.
·         Modus interogatif;menyatakan pertanyaan
·         Modus obligatif; menyatakan keharusan.
·         Modus desideratif;menyatakan keinginan

Aspek  adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam situasi,keadaan,kejadian atau proses.
·         Aspek kontinuatif;menyatakan perbuatan terus berlangsung
·         Aspek progresif;menyatakan prbutan baru dimulai
·         Aspek repetitif; menyatakan perbuatan itu terjadiberulang-ulang
·         Aspek perfektif;menyatakan perbuatan sudah selesai
·         Aspek imperfektif;menyatakan perbuatan berlangsung sebentar
·         Aspek sesatif;menyatakan perbuatan berakhir
Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan terjadinya perbuatan didalam predikat
Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. Misal ,mungkin,barangkali,sebaiknya,dsb
Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagiian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.
Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dalam kalimat dangan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.
·         Diatesis aktif;jika subjek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.
·         Diatesis pasif;jika subjek menjadi sasaran perbuatan
·         Diatesis reflektif;jika subjek berbuat atau melakukan sesutu terhadap dirinya sendiri.
·         Diatesis resiprokal;jika  subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan.
·         Diatesis kausatif;jika subjek menjadi penyebab atas terjadinya seuatu.
·          

A. Pengertian wacana
Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga merupakan satuan  gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap , maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan,pikiran, atau ide yang utuh,yang bisa dipahami oleh pembaca. Persyaratan gramatikal dalam wacana harus adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut.wacana itudisebut baik kalau kohesif dan koherens.
B.Alat wacana
Alat gramatikal untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain, adalah:
1.      Konjungsi,yakni alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau paragraf dengan paragraf.
2.      Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sabagai rujukan anaforis.
3.      Menggunakan elipses, yaitu penghilang bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat lain.          
Selain itu, wacana juga dapat dibuat dengan berbagai aspek semantik. Caranya , antara lain dengan:
1.      Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam kalimat itu. Contoh : kemaren hujan turun lebat sekali. Hari ini cerahnya bukan main.
2.      Menggunakan  hubungan generik-spesifik atau sebaliknya. Misal: Kuda itu jangan kau pacu terus. Binatang juga perlu istirahat.
3.      Menggunakan hubungan perbandingan antara isi bagian kedua kalimat. Misal: Lahap benar makannya. Seperti orang yang sudah satu minggu tidak ketemu nasi.
4.      Menggunakan hubungan sebab-akibat diantara isi kedua bagian kalimat.
5.      Menggunakan hubungan tujuan dalam isi sebuah wacana.
6.      Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat.
C.Jenis wacana
1. wacana lisan dan wacana tulis
2. wacana prosa dan wacana puisi
3. wacana narasi,wacana eksposisi, wacana persuasi,dan wacana argumentasi.
D.Subsatuan  wacana
Mungkin juga ada yang agak besar atau agak luas, sehingga perlu diwujudkan dalam dua tiga kalimat atau lebih. misal:bukalah alas kaki! (sepatu,sendal,dan lain-lain)
E.Catatan mengenai hierarki satuan
urutan hierarki itu adalah:
-wacana
-kalimat
-klausa
-frase
-kata
-morfem
-fonem
Satuan yang tingkat lebih kecil akan membentuk satuan       lebih besar . jadi fonem membentuk morfem, lalu morfem akan membentuk kata, kemudian kata akan membentuk frase,selanjutnya  frase akan membentuk klausa,sesudah itu klausa akan membentuk kalimat dan akhirnya kalimat akan membentuk wacana. (urutan hiererki normal teoritis).
       

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.
Widjono HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.