KELOMPOK
3 LINGUISTIK UMUM
TENTANG
SINTAKSIS
Disusun
oleh :
Citra
Wati A1B114010
Fahriah
A1B114018
M.Nasar
Helmi A1B114035
Sarifah
Novia Astria A1B114051
Vila
Eldiana Dwi Safitri A1B114060
Mahmuda
A1B114074
M.Ikhsan
Ramadani A1B114081
Noranisa
A1B114088
Rieska
Ananda A1B114095
Bahjatul Atqiya A1B112020
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN
2014/2015
SINTAKSIS
1.
Pengertian Sintaksis
Kata sintaksis berasaldari kata Yunani (sun = ‘dengan’
+ tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti
menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Sintaksis
adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan.
Sama
halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal
di dalam kata.
Unsur
bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat.
Tuturan
dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.
Ramlan
(1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang
membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase .”
Secara
umum sintaksis adalah telaah tentang struktur kalimat.
2.
Kata sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan
terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis
yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata, hanya dibicarakan sebgai
satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur
pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat Dalam
pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita
bedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword)
dan kata tugas (funcionword). Yang merupakan kata penuh adalah
kata-kata yang termasuk kategori nomina, ajektifa, adverbia, dan numeralia.
Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang yang berkategori
preposisi dan konjungsi.
Frasa
A.P
engertian F
rasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau
lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di
dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.
- bayi sehat
- pisang goreng
- baru datang
- sedang membaca
Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru
datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu
tidak membentuk hubungan subjek dan predikat.
B.
Jenis Frase
1)
Frase Eksostentrik
Frase
eksosentrik adalah frase yang komponen komponennya tidak mempunyai perilaku
sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, frase di pasar, yang
terdiri dari komponen di dan komponen pasar.’’ Dia
berdagang di pasar ‘’.
Frase eksosentirk biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif seperti : di,
dari, demi, dengan, oleh,dsb.
dan frase eksosentrik yang nondirektif. Seperti: si,sang, yang, para,
kaum,dsb.
2)
Frase Endosentrik
Frase
endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki
perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya,komponen
pertama sedang membaca sedang komponen keduanya yaitu
membaca dapat menggantikan kedudukan frase tersebut.contoh:-Nenek
sedang membaca komik di kamar.
-Nenek membaca komik di kamar
3)
Frase Koordinatif
Frase
koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen
atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh
kunjungsi koordinatif.seperti ; dan, atau, tetapi,baik, makin
Contoh; sahat dan kuat,buruh atau majikan,makin terang
makin baik.
4)
Frase Apositif
Frase
apositif adalah frase koordinatif yang kedua k komponenanya saling merujuk
sesamanya, dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan
Contoh: -Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.
-Guru
saya, Pak Ahmad, rajin sekali
C. Perluasan
Frase
Salah satu ciri frase adalah frase itu dapat di perluas,
maksudnya,frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai pengertian yang
akan ditampilkan. Misalnya:frase seorang
mahasiswa .di perluas menjadi bukan seorang mahasiswa kedokteran.
Klausa
A.Pengertian
Klausa
Klausa
adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif.
Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang
berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai
objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa
adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih
besar.”
Sebuah
konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final
atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat
kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus
klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat
B.Jenis
Klausa
Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya
klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai
unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat, dan
karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat
memiliki struktur yang tidak lengkap.
Berdasarkan
kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa
verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa
preposisional. Dengan adanya berbagai tipe verba, maka dikenal adanya klausa
transitif, klausa intransitif, klausa refleksif dan klausa resprokal.
Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya
berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frase. Klausa adverbial adalah
klausa yang predikatnya berupa adverbial. Klausa preposisional adalah klausa
yang predikatnya berupa frase berkategori.
Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa
kata atau frase numerila. Klausa berupasat adalah klausa yang subjeknya terikat
didalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang
juga berlaku sebagai subjek.
Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran
(Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat
menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah
satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang
terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau
gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang
minimal mengandung satu subjek dan prediket, baik unsur fungsi itu eksplisit
maupun implisit; (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal,
diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan
kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya,
intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah
satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi
tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang
intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
Fungsi sintaksis dalam kalimat
Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat
diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis
adalah
subjek (S),
prediket (P),
objek (O),
pelengkap
(Pel.), dan
keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus
mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam
setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu
objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi
sintaksis akan dijelaskan berikut ini.
Jenis kalimat
1.
kalimat inti dan kalimat non inti
a.
FN+FV : Nenek datang
b.
FN+FV+FN : Nenek membaca komik
c.
FN+FV+FN+FN : Nenek membacakan kakek komik
d.
FN+FN : Nenek dokter
e.
FN+FA : Nenek cantik
f.
FN+Fnum : Uangnya dua juta
g.
FN+FP : Uangnya di dompet
2.
Kalimat
tunggal dan kalimat majemuk
3.
Kalimat
mayor dan kalimat minor
4.
Kalimat
verbal dan kalimat non-verbal
5.
Kalimat
bebas dan kalimat terikat
Intonasi Kalimat
Tekanan;ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran
Tempo;waktu yang di butuhkan untuk melapalkan suatu arus ujaran.
Nada;unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen
dalam suatu arus ujaran.
Modus,
Aspek,Kala,Modalitas,Fokus,dan Diatesis
Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan
menurut tafsiran si pembaca dalam bahasa tertentu.
·
Modus
indikatif atau deklaratif; menunjukkan sikap objektif atau netral.
·
Modus
optatif; menunjukkan harapan atau keinginan.
·
Modus
imperatif;menyatakan perintah,larangan atau tegahan.
·
Modus
interogatif;menyatakan pertanyaan
·
Modus
obligatif; menyatakan keharusan.
·
Modus
desideratif;menyatakan keinginan
Aspek adalah cara untuk memandang
pembentukan waktu secara internal dalam situasi,keadaan,kejadian atau proses.
·
Aspek
kontinuatif;menyatakan perbuatan terus berlangsung
·
Aspek
progresif;menyatakan prbutan baru dimulai
·
Aspek
repetitif; menyatakan perbuatan itu terjadiberulang-ulang
·
Aspek
perfektif;menyatakan perbuatan sudah selesai
·
Aspek
imperfektif;menyatakan perbuatan berlangsung sebentar
·
Aspek
sesatif;menyatakan perbuatan berakhir
Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan terjadinya perbuatan
didalam predikat
Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara
terhadap hal yang dibicarakan. Misal ,mungkin,barangkali,sebaiknya,dsb
Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagiian kalimat sehingga perhatian
pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.
Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dalam kalimat dangan
perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.
·
Diatesis
aktif;jika subjek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.
·
Diatesis
pasif;jika subjek menjadi sasaran perbuatan
·
Diatesis
reflektif;jika subjek berbuat atau melakukan sesutu terhadap dirinya sendiri.
·
Diatesis
resiprokal;jika subjek yang terdiri dari
dua pihak berbuat tindakan berbalasan.
·
Diatesis
kausatif;jika subjek menjadi penyebab atas terjadinya seuatu.
·
A. Pengertian wacana
Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai
satuan bahasa yang lengkap , maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep,
gagasan,pikiran, atau ide yang utuh,yang bisa dipahami oleh pembaca.
Persyaratan gramatikal dalam wacana harus adanya keserasian hubungan antara
unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut.wacana itudisebut baik kalau kohesif
dan koherens.
B.Alat wacana
Alat gramatikal untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain, adalah:
1. Konjungsi,yakni alat untuk menghubungkan bagian-bagian
kalimat atau paragraf dengan paragraf.
2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu
sabagai rujukan anaforis.
3. Menggunakan elipses, yaitu penghilang bagian kalimat yang
sama yang terdapat pada kalimat lain.
Selain itu, wacana juga dapat dibuat dengan berbagai aspek semantik. Caranya , antara lain dengan:
1. Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian
kalimat yang terdapat dalam kalimat itu. Contoh : kemaren hujan turun lebat
sekali. Hari ini cerahnya bukan main.
2. Menggunakan
hubungan generik-spesifik atau sebaliknya. Misal: Kuda itu jangan kau
pacu terus. Binatang juga perlu istirahat.
3. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi bagian kedua
kalimat. Misal: Lahap benar makannya. Seperti orang yang sudah satu minggu
tidak ketemu nasi.
4. Menggunakan hubungan sebab-akibat diantara isi kedua
bagian kalimat.
5. Menggunakan hubungan tujuan dalam isi sebuah wacana.
6. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian
kalimat.
C.Jenis wacana
1. wacana lisan dan wacana tulis
2. wacana prosa dan wacana puisi
3. wacana narasi,wacana eksposisi, wacana persuasi,dan wacana argumentasi.
D.Subsatuan wacana
Mungkin juga ada yang agak besar atau agak luas, sehingga perlu diwujudkan
dalam dua tiga kalimat atau lebih. misal:bukalah alas kaki! (sepatu,sendal,dan
lain-lain)
E.Catatan mengenai hierarki satuan
urutan hierarki itu adalah:
-wacana
-kalimat
-klausa
-frase
-kata
-morfem
-fonem
Satuan yang tingkat lebih kecil akan membentuk satuan lebih besar . jadi fonem membentuk morfem,
lalu morfem akan membentuk kata, kemudian kata akan membentuk
frase,selanjutnya frase akan membentuk
klausa,sesudah itu klausa akan membentuk kalimat dan akhirnya kalimat akan
membentuk wacana. (urutan hiererki normal teoritis).
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003.
Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984.
Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009.
Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa
Indonesia. Padang: Sukabina Press.
Widjono HS. 2007. Bahasa
Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
Jakarta: Grasindo.